Categories
Uncategorized

5 Ciri Orangtua Milenial, Salah Satunya Berbagi Tugas Rumah Tangga!

5 Ciri Orangtua Milenial, Salah Satunya Berbagi Tugas Rumah Tangga!

Dengan semakin berkembangnya pendidikan dan mudahnya akses informasi seperti sekarang, mau tak mau, hal itu memengaruhi budaya serta gaya hidup sehari-hari. Termasuk bagaimana para generasi milenial menjalankan perannya sebagai orangtua.

Di lansir dari taupier.net, berikut ini akan di bahas mengenai ciri-ciri orangtua generasi milenial. Coba deh, di cek apakah kamu dan pasangan sudah menerapkan?

1. Berbagi tugas rumah tangga

Di kutip dari Club388 Indonesia, jika orangtua generasi terdahulu dalam menjalankan peran suami istri lebih menerapkan budaya patriarki, di mana peran suami sangat mendominasi, hal itu terlihat berbeda di generasi milenial. Sudah banyak yang sadar, bahwa namanya rumah tangga itu di jalankan sebagai satu tim. Sehingga, tak ada yang namanya mengandalkan salah satu pihak saja, misalnya hanya istri saja yang melakukan tugas domestik.

Kini, para lelaki pun tak malu untuk turun tangan melakukan tugas-tugas rumah tangga, seperti menyapu, mengepel, hingga memandikan bayi. Rumah tanggamu sudah menjalankan ini?

2. Lebih open minded

Kalau dulu, tugas domestik selalu di tangani anak perempuan, kini tak lagi. Saat ini, para orangtua milenial lebih open minded. Mereka mendidik putra putrinya, untuk bisa melakukan tugas apa pun, dan saling membantu sama lain. Sudah bukan zamannya lagi, tugas masak dan cuci piring di limpahkan ke anak perempuan. Anak lelaki pun harus di libatkan, supaya ketika ia dewasa, jadi gak anti atau malu melakukan hal itu.

3. Pola asuh berdasarkan ilmu parenting

Segala sesuatu, hasilnya akan lebih baik jika di lakukan berdasarkan ilmu. Termasuk juga dalam pengasuhan anak. Meski orangtua dulu sudah melakukan usaha yang terbaik untuk menjalankan perannya sebagai orangtua, tapi tak bisa di mungkiri, ada banyak praktik pengasuhan anak yang ternyata ketika di teliti, ternyata kurang tepat.

Misalnya saja, dulu melihat anak di bentak-bentak orangtua adalah hal biasa dan di maklumi. Tapi ternyata, cara pengasuhan seperti itu justru berbahaya bagi perkembangan psikologis anak.

Dan bersyukurnya, orangtua milenial saat ini lebih melek ilmu parenting, karena aksesnya lebih mudah. Sehingga pengasuhan anak pun jadi tidak sembarangan dan dapat di lakukan dengan benar.

4. Lebih ekspresif dalam mengungkapkan rasa sayang

Orangtua milenial, tak merasa sungkan untuk bisa mengekspresikan dengan bebas rasa sayang dan cinta kasih mereka pada anak-anaknya. Mulai dari sering memeluk anak, mencium mereka, mengucapkan terima kasih, dan sebagainya.

Dan dampaknya pun positif. Anak jadi tumbuh menjadi lebih bahagia, mampu mengungkapkan emosinya dengan lebih terbuka, dan pastinya jadi lebih empati.

5. Tingkat literasi yang lebih tinggi

Hal ini berkaitan dengan pemahaman ilmu parenting yang baik dari orangtua generasi milenial, sehingga mereka sadar bahwa anak, harusnya sudah di kenalkan dengan asyiknya aktivitas membaca sedini mungkin.

Dan ini pula yang membuat kita melihat para buah hati dari orangtua milenial, memiliki literasi tinggi. Tentunya, ini balik kepada orangtuanya juga. Kalau orangtuanya juga senang membaca, dan sering membacakan buku pada anak-anaknya, maka anak pun akan mencontoh.

Uraian tadi bukan berarti pengasuhan generasi terdahulu benar-benar buruk. Ingat, lho setiap orangtua akan selalu berusaha memberikan yang terbaik bagi anak-anak mereka.

Penjabaran ini hanya di maksudkan sebagai bahan koreksi sekaligus pembelajaran bersama, supaya kita semua bisa jadi orangtua yang baik, dan memiliki cara yang tepat dalam pengasuhan anak.

Categories
Uncategorized

Gak Suka Di Perintah di Kantor? Ini Dampak Buruk Bagi Kariermu!

Gak Suka Di Perintah di Kantor? Ini Dampak Buruk Bagi Kariermu!

Karier seseorang dapat menanjak apabila dirinya memiliki nilai lebih di mata orang-orang yang lebih berkuasa darinya. Semakin tinggi nilai lebih tersebut, maka makin besar pula peluangnya untuk naik ke arah kesuksesannya.

Tetapi, upaya yang di lakukan untuk mendapatkan nilai lebih itu tentu tidaklah mudah. Terdapat berbagai aspek yang memengaruhi pertimbangan tersebut. Dan salah satunya adalah cekatan ketika di perintahkan. Nah, ternyata tak semua orang mau, lho di perintah! Di lansir dari taupier.net, simak lima dampak buruk berikut ini jika kamu terlalu ogah di perintah!

1. Menurunkan kepercayaan orang lain

Di kutip dari Club388 Indonesia, apabila kamu ingin di percaya oleh orang lain, maka sebisa mungkin kamu mau dan mampu melakukan apa yang di inginkan olehnya sebaik mungkin. Dengan mengesampingkan gengsi, kamu tentu tidak akan kesulitan untuk menjalani perintah.

Tetapi, jika kamu mengedepankan perasaan gengsi, sudah pasti perintah hanya akan menjadi omong kosong bagi kamu. Dan hal ini yang ternyata dapat menurunkan kepercayaan orang lain. Di mana, orang lain akan sangat kecewa dan tak ingin lagi mengandalkan kamu dalam berbagai hal.

2. Membuat kamu sulit di terima organisasi atau perusahaan

Bekerja untuk orang lain atau publik, tentu memiliki risiko di mana kamu harus siap dan patuh terhadap perintah atasan. Tanpa syarat dan tanpa ragu, perintah harus di laksanakan sebaik mungkin. Jika kamu di kenal sebagai pribadi yang sulit sekali di perintah, maka jangan terkejut juga jika sulit sekali kamu mendapat pekerjaan. Semua hal ini berhubungan untuk kariermu, jika kamu sepelekan maka kamu sendiri yang akan menanggung akibatnya.

3. Etos kerjamu di pertanyakan

Jangan katakan bahwa etos kerjamu adalah yang terbaik jika kamu saja tidak dapat menjalankan perintah dengan maksimal. Kamu mungkin merasa jengkel dengan perintah-perintah yang di katakan oleh atasan atau rekan kerja. Tetapi kamu juga harus tahu bahwa ada nilai dari dalam dirimu yang harus kamu jaga dan tingkatan selalu. Jika kamu bertindak seenaknya dan tidak mengindahkan berbagai perintah, bukan salah orang lain untuk memberi “cap” buruk kepadamu!

Categories
Uncategorized

4 Etika Resign dari Tempat Kerja, Jangan Main Kabur Aja!

4 Etika Resign dari Tempat Kerja, Jangan Main Kabur Aja!

jangan sesuka hati perhatikan 7 etika resign dari kantor q0QzZkYmGH - 4 Etika Resign dari Tempat Kerja, Jangan Main Kabur Aja!

Gak cocok dengan pekerjaan, atasan, teman kerja, atau karena ingin mencoba pekerjaan lain, apapun alasannya, berhenti dari tempat kerja nyatanya tetap memerlukan etika yang baik. Meski berniat untuk keluar dari pekerjaan tersebut, bukan berarti kita bisa bertindak sesuka hati dan merasa gak masalah jika harus meninggalkan kesan yang gak menyenangkan.

Pasalnya, kita gak tau dengan jelas apakah di masa depan kita akan memerlukan bantuan orang-orang di tempat kerja tersebut lagi atau gak. Bayangkan bagaimana jadinya jika kita malah meninggalkan kesan gak menyenangkan yang membuat orang-orang merasa gak ingin berurusan dengan kita lagi. Nah di kutip dari laman taupier.net, biar gak begini, yuk kita terapkan lima etika saat resign dari tempat kerja berikut.

1. Carilah waktu yang tepat dan usahakan untuk membicarakannya satu bulan sebelum kamu resign

Di kutip dari laman Club388 Indonesia, jika memang sudah di rencanakan jauh-jauh hari, usahakan untuk mencari waktu yang tepat untuk membicarakannya dengan atasan. Jangan mengambil waktu di mana sedang banyak masalah di kantor, atau saat atasan sedang punya banyak urusan.

Selain itu, usahakan juga untuk memberi tahu atasanmu soal hal ini kira-kira satu bulan sebelumnya. Agar, kamu gak terkesan sedang berusaha kabur. Di samping itu, kamu juga jadi punya waktu untuk menyelesaikan pekerjaan yang ada.

2. Hindari perselisihan dengan rekan kerja

Memang, gak semua pekerjaan itu menjanjikan kita mendapat rekan kerja yang menyenangkan. Sebaliknya, justru di tempat kerja lah kita seringkali bertemu dengan karakter orang yang beragam dan beberapa dari mereka memang menyebalkan. Namun, jangan mentang-mentang kamu mau resign, kemudian kamu malah bersikap gak sopan dan memancing perselisihan.

Tetaplah pertahankan sikap bersahabat dan gak perlu memancing perseteruan yang gak penting meski kamu gak menyukai beberapa rekan kerja tersebut. Setuju?

3. Berikan alasan yang baik kepada atasan

Apapun alasanmu yang sebenarnya yang menyebabkan kamu ingin resign, tetaplah berikan alasan yang baik kepada atasan. Carilah alasan yang paling bisa di terima dan gak di buat-buat. Meskipun kamu mungkin punya alasan lain seperti sudah gak betah dengan peraturannya, atau alasan lain yang gak menyenangkan, simpanlah rapat-rapat alasan itu untuk dirimu sendiri.

4. Tetap jaga hubungan baik dengan siapapun di tempat kerja tersebut

Penting banget untuk di ingat nih bagi kamu yang ingin resign. Tetaplah menjaga hubungan baik dengan siapapun di tempat kerja tersebut meskipun mungkin kamu nantinya gak akan berurusan lagi dengan mereka. Sebab kita gak tau pasti apa yang akan terjadi di masa depan.

Lagipula, relasi itu ibarat sebuah investasi yang harus kita jaga terus, karena kita gak tau kapan akan memerlukan bantuan mereka. Jangan sampai kita merugikan diri sendiri dengan memancing permusuhan sama orang lain, ya.

Categories
Uncategorized

Empat Tren Kerja Hybrid yang Perlu Kamu Tahu, Kerja Jarak Jauh Fleksibel!

Empat Tren Kerja Hybrid yang Perlu Kamu Tahu, Kerja Jarak Jauh Fleksibel!

Microsoft Corp baru-baru ini mengumumkan sebuah temuan dari laporan Work Trend Index 2021 mengenai tujuh tren kerja hybrid. Melalui rilis yang di terima taupier.net, di ketahui bila temuan tersebut di buat berdasarkan studi terhadap lebih dari 30.000 orang di 31 negara, termasuk Indonesia.

Hasil temuan ini juga menyertakan analisis dari triliunan sinyal produktivitas dan tenaga kerja di Microsoft 365 serta LinkedIn. Dan perspektif dari para ahli yang telah mempelajari aspek sosial maupun desain ruang di tempat kerja. Di kutip dari laman Club388 Indonesia, berikut tujuh tren kerja hybrid dari temuan Microsoft Corp tersebut.

1. Sistem kerja fleksibel akan tetap ada

Lebih dari 70 persen pekerja di seluruh dunia menginginkan opsi kerja jarak jauh yang fleksibel untuk tetap di lanjutkan. Sementara, lebih dari 65 persen menginginkan lebih banyak waktu tatap muka dengan tim mereka.

Di Indonesia sendiri, sebanyak 83 persen pekerja menginginkan opsi kerja jarak jauh yang fleksibel. Atau lebih tinggi dari rata-rata global di 73 persen. Selain itu, di ketahui juga bila 72 persen pemimpin bisnis di Indonesia berencana mendesain ulang kantor. Untuk mendukung model kerja hybrid, lebih tinggi dari angka global di 66 persen.

“Selama setahun terakhir, tidak ada area yang mengalami transformasi lebih cepat daripada cara kami bekerja. Harapan karyawan berubah dan kami perlu mendefinisikan produktivitas secara lebih luas. Termasuk kolaborasi, pembelajaran, dan kesejahteraan untuk mendorong kemajuan karier bagi setiap pekerja. Semua ini perlu di lakukan dengan fleksibilitas. Tentang kapan, di mana, dan bagaimana orang bekerja,” ujar Satya Nadella, CEO Microsoft.

2. Pemimpin kurang terhubung dengan karyawan

Banyak pemimpin bisnis bernasib lebih baik daripada karyawan mereka. Enam puluh satu persen pemimpin mengatakan bahwa mereka berkembang 23 persen lebih tinggi. Daripada mereka yang tidak memiliki otoritas pengambilan keputusan.

Mereka juga melaporkan telah membangun hubungan yang lebih kuat dengan kolega, memperoleh pendapatan lebih tinggi. Dan mengambil semua atau lebih hari libur yang di alokasikan. Dalam hal ini, pemimpin bisnis yang di survei, cenderung seorang millennials atau Gen X, laki-laki, dan sudah lama berkarier.

Untuk Gen Z, wanita, dan mereka yang baru berkarier sebagai pemimpin, di laporkan mengalami hal sebaliknya. Yakni merasa kesulitan selama setahun terakhir. Selain itu, para pekerja justru merasakan seolah tidak terhubung dengan para pemimpin tersebut.

“Pertemuan dadakan di kantor membantu para pemimpin tetap jujur. Dengan kerja jarak jauh, lebih sedikit kesempatan untuk bertanya kepada karyawan, ‘Hai, apa kabar?’ dan kemudian menangkap isyarat penting saat mereka merespons. Tetapi datanya jelas, orang-orang kami sedang berjuang. Dan kami perlu menemukan cara baru untuk membantu mereka,” kata Jared Spataro, CVP Microsoft 365.

3. Produktivitas tinggi berdampak pada meningkatnya kelelahan bekerja

Intensitas digital harian pekerja telah meningkat secara substansial dengan jumlah rata-rata pertemuan dan obrolan terus bertambah sejak tahun lalu. Secara khusus, Microsoft Corp pun membandingkan tren kolaborasi di Microsoft 365 antara Februari 2020 dan Februari 2021.

Hasilnya, waktu yang di habiskan dalam rapat Microsoft Teams telah meningkat lebih dari dua kali lipat secara global dengan waktu rata-rata lebih lama 10 menit, meningkat dari 35 menjadi 45 menit. Jumlah email yang di kirim ke klien sejak Februari pun, mengalami peningkatan sebesar 40,6 miliar atau 66 persen.

Rentetan komunikasi yang tidak terstruktur ini, sebagian besar tidak terencana dan membuat para pekerja merasa seolah adanya tekanan untuk mengikutinya. Ini membuktikan intensitas hari kerja karyawan selama ini meningkat secara signifikan sehingga kelebihan beban digital itu nyata dan terus meningkat.

4. Gen Z berisiko mengalami kesulitan dan membutuhkan penyegaran energi kembali

Generasi baru berkontribusi cukup penting dalam dunia kerja, yaitu menawarkan perspektif baru. Sayangnya, berdasarkan hasil survei, di ketahui enam puluh persen dari mereka yang berusia antara 18-25 tahun mengatakan bahwa mereka hanya bertahan hidup atau berjuang keras saat ini.

Responden survei melaporkan bahwa mereka cenderung berjuang untuk menyeimbangkan pekerjaan dengan kehidupan dan merasa lelah setelah seharian bekerja jika di bandingkan dengan generasi yang lebih tua. Gen Z juga melaporkan kesulitan merasa terlibat atau bersemangat akan pekerjaan, berbicara selama rapat, dan membawa ide-ide baru ke meja.

Oleh karena itu, seorang pemimpin bisnis perlu memastikan jika Gen Z dapat merasakan tujuan kesejahteraan. Hal ini adalah sebuah keharusan yang mendesak dalam peralihan ke dalam fase kerja hybrid.

Categories
Uncategorized

4 Skill Keren yang dapat Kamu Kuasai tanpa Kursus

4 Skill Keren yang dapat Kamu Kuasai tanpa Kursus

Di lansir dari taupier.net, pada pertengahan tahun 2021 ini kita sering melihat ada banyak sekali daftar bakat yang harus di miliki jika tidak ingin tertinggal di era pesatnya teknologi sekarang. Ada banyak kelas kursus untuk mengembangkan bakat yang menyediakan bermacam-macam bakat yang dapat di kembangkan.

Akan tetapi, beberapa bakat berikut dapat kamu miliki tanpa harus ikut kursus apa pun.Semuanya dapat kamu kuasai dengan mengendalikan diri sendiri. Lalu di kutip dari Club388 Indonesia, kamu tidak perlu takut akan kerasnya persaingan dunia kerja saat ini jika memiliki enam skill keren berikut.

1. Planning/perencanaan

Ada banyak orang yang sukses dengan keren karena mereka memiliki planning yang baik untuk setiap tujuan yang ingin mereka raih. Kamu juga bisa seperti mereka.

Dengan selalu memiliki planning yang baik dan matang dapat sangat membantumu ketika ingin mencapai sesuatu. Tidak perlu terlalu rumit, tidak apa jika sederhana. Yang penting adalah tetap konsisten mengikuti semua planning yang di buat dan ingat kamu juga butuh istirahat.

2. Tepat waktu

Banyak hal lain yang dapat di lakukan ketika kita tidak terburu-buru dalam mengerjakan sesuatu. Hal ini juga akan kita rasakan ketika kita telah terbiasa melakukan pekerjaan tepat waktu, datang ke tempat perjanjian tepat waktu, dan hal lain yang memerlukan ketepatan waktu lainnya.

Selain membuat kita tenang, kebiasaan tepat waktu juga akan memberi pengaruh baik ke orang sekitar karena hal ini bisa jadi membuat mereka termotivasi, bahkan kamu dapat di percaya dalam suatu hal.

3. Keinginan belajar

Kita tidak akan bisa menguasai suatu hal jika rasa ingin belajar di dalam diri sendiri kurang. Cara untuk memanipulasi diri sendiri agar dapat giat mempelajari sesuatu adalah dengan mengingat tujuan awal kita.

Kita tidak mungkin mulai mencari sumber belajar dari buku maupun internet jika kita tidak ada alasan untuk melakukan hal itu. Ketika ingin mengakhiri pembelajaran di tengah jalan, ingat kembali alasan kita mulai belajar hal tersebut.

Keinginan belajar yang kuat dapat membantu kita menghadapi dunia kerja, karena jika kita pasif maka tidak akan ada ilmu yang kita dapat.

4. Ringan tangan

Ringan tangan atau suka menolong akan mudah di lakukan jika kita berada dalam posisi yang baik. Hal ini akan sulit ketika kita juga sedang di timpa kesusahan. Akan tetapi jika kita telah terbiasa berbuat baik kepada sekitar, kita pun akan dengan mudah menolong orang lain maupun alam sekitar bahkan ketika kita ditimpa masalah.

Kita akan memberi efek positif di alam sekitar kita dengan segala kebaikan yang kita berikan. Meski kecil, skill yang satu ini masih jarang, lho. Maka dari itu, jika tidak ada orang baik di sekitarmu, jadilah orang baik itu sendiri.

SEMANGAT HIDUP , MOTIVASI HIDUP , SKILL KERJA , EDUCATE ME

Categories
Uncategorized

Lima Nasihat buat Kamu yang Punya Sifat Dasar Penyayang

Lima Nasihat buat Kamu yang Punya Sifat Dasar Penyayang

Bagi sebagian orang, memiliki sifat penyayang terhadap segala hal menjadi anugerah yang patut untuk kita syukuri. Hanya saja, gak selamanya hal tersebut bisa berdampak positif, ada juga yang negatif.

Makanya, jangan pernah mengabaikan atau menganggap sepele akan hal ini. Untuk itu, di lansir dari laman taupier.net,  sedikitnya ada lima saran buat kamu yang memang basic-nya punya sifat dasar penyayang. Untuk lebih jelasnya, di kutip dari Club388 Indonesia, yuk simak ulasan di bawah ini.

1. Buat batasan dengan orang yang kamu sayang tapi di anggap teman

Punya sifat penyayang sedari awal memang memunculkan aura yang positif. Namun, menyayangi setiap orang tanpa pikir panjang bisa memicu kesalahpahaman yang berakhir patah hati.

Makanya, kamu harus bisa membuat batasan dengan orang yang kamu sayang tapi di anggap teman, khususnya lawan jenis yang ada di sekitarmu.

2. Selalu waspada karena sifat sayangmu bisa di manfaatkan

Kita tidak bisa membantah bahwa orang yang punya sifat penyayang akan di sukai banyak orang. Hanya saja, kamu gak boleh menjadikan hal tersebut sebagai bumerang yang merugikan diri sendiri.

Nyatanya, kamu harus selalu waspada karena sifat mudah sayang kamu bisa di manfaatkan orang lain. Banyak orang yang mengambil kesempatan dalam kesempitan, dan itu bisa sangat fatal jika tidak di cegah sejak dini.

3. Gunakan sifat penyayang kamu untuk hal yang positif dan bermanfaat

Sudah sepantasnya jika sifat penyayang yang kita miliki di gunakan dengan sebaik-baiknya. Hanya saja, banyak dari mereka yang menggunakan kelebihan tersebut sebagai bentuk ajang mencari pasangan dan hal negatif lainnya.

Padahal, kamu harus bisa menggunakan sifatnya penyayang tersebut untuk hal yang berguna dan bermanfaat, jangan gunakan sesuatu yang sifatnya positif dengan tujuan yang negatif.

4. Kamu harus bisa membedakan rasa sayang terhadap semua orang dan sayang pada pasangan sendiri

Memiliki sifatnya penyayang memang sangat menguntungkan diri sendiri, hidupmu jadi lebih positif dan mudah dekat dengan orang banyak. Hanya saja, kamu harus memisahkan antara kehidupan pribadi dengan khalayak ramai.

Nyatanya, penting sekali untuk membedakan rasa sayang terhadap semua orang dan rasa sayang pada pasangan sendiri. Jika kamu terlalu ceroboh, pasanganmu bisa cemburu buta dan hubunganmu akan selalu di ujung tanduk.

5. Sayangi diri sendiri terlebih dahulu sebelum menyayangi orang lain

Kita semua paham bahwa punya rasa sayang yang tinggi terhadap segala hal memiliki nilai lebih yang tidak di miliki orang pada umumnya. Namun, sering kali kita lupa untuk mencurahkan kasih sayang terhadap diri sendiri.

Padahal, kamu harus bisa menyayangi diri sendiri terlebih dahulu sebelum menyayangi orang lain. Jangan abaikan diri sendiri, atau hidupmu tidak akan mendapat kebahagiaan yang sesungguhnya.

Categories
Uncategorized

Tiga Alasan Kamu Gak Boleh Terbiasa Cuek Sama Omongan Negatif Orang Lain

Tiga Alasan Kamu Gak Boleh Terbiasa Cuek Sama Omongan Negatif Orang Lain

Di lansir dari taupier.net, memang bersikap cuek dan gak mau mendengarkan omongan miring nan negatif dari orang lain adalah salah satu dari cara mendapatkan kebahagiaan dan ketenangan jiwa karena kamu akan capek sendiri jika terus-terusan meladeni omongan mereka yang terdengar seperti menjatuhkan diri sendiri.

Namun, sikap seperti ini jangan sampai di jadikan kebiasaan karena akibatnya bisa sangat fatal. Tidak hanya bagi diri sendiri tapi juga orang lain. Hal ini di sebabkan karena omongan negatif dari orang lain itu bisa saja ada sisi positif di baliknya. Yang tentu saja di umpamakan seperti bahan bakar untuk hidup yang lebih baik lagi ke depannya.

Di kutip dari Club388 Indonesia, berikut adalah alasan mengapa kamu gak boleh terbiasa cuek sama omongan negatif orang lain.

1. Kamu akan terbiasa menghargai pendapat orang lain

Jika kamu sendiri suka cuek dan gak mau mendengarkan omongan negatif dari orang lain. Padahal dia sebenarnya ingin menyampaikan kritik dan saran yang sifatnya membangun. Orang tersebut pasti akan sangat kesal dan jengkel karena apa yang dia utarakan sama sekali gak di hargai olehmu.

Bukan gak mungkin, dia akan sangat malas bahkan gak mau lagi menasihatimu. Apalagi kalau omongan negatif itu keluarnya dari mulut orangtuamu, kalau di cuekin maka sama saja kamu durhaka pada mereka. Duh, jangan sampai deh, kualat!

Sebaliknya, jika kamu membiasakan diri untuk terbuka terhadap omongan negatif dari orang lain. Selama itu bersifat membangun, orang akan merasa senang karena pendapat pribadinya tentang kamu di dengarkan. Dan kamu akan terbiasa untuk menghargai pendapat masing-masing orang.

2. Bisa jadi kamu akan susah untuk meraih kesuksesan

Bila kamu sendiri terbiasa cuek alias “bodo amat” sama omongan negatif orang lain. Maka kamu akan sangat susah untuk meraih kesuksesan. Sedangkan jika kamu membiasakan diri untuk mendengarkan omongan negatif dari orang lain dan mengambilnya sebagai bahan introspeksi diri, bukan gak mungkin kamu akan di mudahkan untuk meraih kesuksesan.

Hal ini di karenakan bahwa salah satu ciri dari orang sukses adalah selalu membuka diri pada kritikan dari orang lain serta selalu mengambil pelajaran dari apa yang orang katakan tentang dirinya.

3. Citramu jadi buruk di mata orang lain jika kamu terbiasa cuek dengan omongan mereka

Kamu mungkin gak menyadari bahwa kebiasaan simpel seperti ini ternyata berpengaruh besar terhadap citra dirimu di mata orang lain. Bayangkan saja jika kamu terbiasa “bodo amat” sama omongan negatif dari orang lain yang bisa saja itu bersifat membangun, maka kamu akan di anggap sebagai sosok yang keras kepala, susah di atur atau bahkan di anggap sebagai sosok yang antikritik.

Nah, gak mau ‘kan kalau kamu sampai di cap sebagai sosok seperti itu oleh orang-orang dekatmu entah itu keluarga, teman, bahkan rekan kerja atau relasi bisnis? Oleh karena itu, yuk coba lebih terbuka dengan omongan orang lain yang meskipun terkesan negatif tetapi ini untuk kebaikanmu.